Mana yang Benar: “KONPERENSI atau KONFERENSI?”

Konperensi atau Konferensi?

Konperensi atau Konferensi?

Perhelatan 60 Tahun Konperensi Asia-Afrika (KAA) di Jakarta dan Bandung baru saja usai. Tidak kurang dari 22 Pemimpin Negara di Asia-Afrika hadir dan 80 lebih negara turut dalam perhelatan tersebut dan menghasilkan 3 dokumen yaitu Pesan dari Bandung, Deklarasi Palestina, dan Deklarasi Penguatan Kemitraan Strategis Baru Asia Afrika (PR, 27/04/2015). Perhelatan yang menelan biaya 200 miliar itu, mampu mengubah tampilan kota terutama yang dilalui oleh para delegasi menjadi lebih indah dan tertata. Seluruh media massa selama beberapa hari mengulas perhelatan tersebut sebagai berita utama.

Media cetak terutama harian umum/koran banyak yang memuat nama perhelatan tersebut dengan Konferensi Asia Afrika. Ada juga yang menulis dengan Konfrensi Asia Afrika, dan Konferensi Asia-Afrika (memakai tanda “-“).   Sementara di ruang pamer utama Museum Konperensi Asia-Afrika banyak dokumen-dokumen yang menuliskannya dengan Museum Konperensi Asia-Afrika (dengan huruf “p” dan tanda hubung “-“). Sampai-sampai seorang blogger mengungkapkan kebingungannya dan mempertanyakan keabsahan nama peristiwa bersejarah itu. Mana yang benar?

Untuk dapat menjawab pertanyaan di atas setidaknya ada tiga acuan. Pertama, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI, Balai Pustaka, 2001) yang di dalamnya memuat lampiran Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD). Kedua, Buku Pintar Pedoman Penyuntingan Naskah (Gramedia Pustaka Utama, 2012), dan yang ketiga memakai acuan dokumen sezaman.

Pertama, dalam KBBI tersurat kata “Konperensi -> Konferensi; Konferensi: rapat atau pertemuan untuk berunding atau bertukar pendapat mengenai suatu masalah yang dihadapi bersama”.  Mengenai definisi tidak akan kita perbincangkan. Kedua diksi ‘konperensi’ dan ‘konferensi’ tercantum dalam KBBI tersebut. Pada lampiran Pedoman Umum EYD terdapat bagian Singkatan dan Akronim yang memuat singkatan “KAA: Konferensi Asia Afrika” dengan huruf “f” dan tanpa tanda sambung “-“.

Kedua, dalam Buku Pintar Pedoman Penyuntingan Naskah yang disusun oleh Pamusuk Eneste, seorang editor senior. Pada Bab 6 mengenai Penyuntingan Naskah, Pamusuk Eneste mengungkapkan subjudul Kebenaran Fakta. Menurutnya salah satu syarat untuk menjadi penyunting naskah adalah ketelitian dan kesabaran. Jika ada satu diksi yang lolos tanpa disertai fakta tentu ini akan berakibat fatal di kemudian hari. Menurutnya diksi yang masuk dalam kategori kebenaran fakta adalah fakta sejarah.  Penulisan nama-nama peristiwa bersejarah menurutnya harus memeriksa kembali fakta-fakta yang terdapat dalam buku-buku referensi ataupun bertanya kepada para saksi sejarah/ pakar sejarah.

Tibalah saatnya pada acuan yang ketiga yaitu memeriksa fakta-fakta sejarah. Acuan pada referensi buku/ dokumen sezaman tentu menjadi penting. Dokumen sezaman adalah dokumen primer yang ditulis/ dicetak pada masa peristiwa tersebut berlangsung baik oleh orang yang mengalami maupun oleh media massa. Terdapat beberapa dokumen yang menjelaskan nama Konperensi Asia-Afrika yaitu (1) Harian Umum Pikiran Rakjat, 19 April 1955. Bahkan di harian ini dimuat singkatan Konp. A-A; (2) Prangko peringatan KAA diterbitkan pada tanggal 18 April 1955; (3) Kartu Pers yang ditandatangani dan distempel pada 12 April 1955 oleh Sekretariat bersama KAA milik jurnalis freelance Kwee Hap Gwan. Pada kartu pers ini KAA disingkat dengan Konperensi A.A.; (4) Bulanan Umum Bergambar Pantjawarna No.80 (Sin Po, Mei 1955); (5) Buku Djawa-Barat Membangun karya K. A. Azhary Soelaiman (1956), terbit setahun setelah peringatan KAA. Sedangkan buku referensi yang memuat nama dengan “Konferensi Asia-Afrika” adalah (1) Buletin Berita Konferensi Asia-Afrika dan (2) buku Negara-negara Peserta Konferensi Asia-Afrika. Keduanya terbitan Kementerian Penerangan RI, 1955.

Acuan fakta dari saksi sejarah sudah dituliskan oleh Ali Sastroamidjojo yang menulis otobiografi Tonggak-tonggak di Perjalananku (PT Kinta, 1972) dan Roeslan Abdulgani dalam buku The Bandung Connection (Penerbit Gunung Agung, 1980). Kedua saksi sejarah tersebut menulis nama peristiwa dengan Konperensi Asia-Afrika. Bahkan Roeslan sering menyingkat dengan Konperensi A-A. Ali Sastroamidjojo seperti yang kita ketahui pada saat KAA 1955 menjabat sebagai Ketua KAA dan Roeslan Abdulgani sebagai Sekretaris Jenderal KAA.

Nama peristiwa KAA yang kemudian hari banyak dikutip dalam media massa semakin beragam. Akan tetapi seperti ada kesepakatan tidak tertulis menuliskannya dengan nama “Konferensi Asia Afrika”. Sementara referensi/ dokumen sezaman memakai nama “Konperensi Asia-Afrika” dan “Konferensi Asia-Afrika”. Pemakaian diksi “konperensi” dipakai pula pada buku-buku yang memuat sejarah Konperensi Kolombo dan Konperensi Bogor (pertemuan awal sebelum KAA). Terlepas dari benar atau tidaknya penulisan tersebut, sebaiknya kita tetap mengacu kepada titimangsa peristiwa bersejarah itu berlangsung, dan tentunya tidak menghilangkan esensi KAA yaitu senantiasa menyebarkan semangat Dasasila Bandung.

Oleh: Deni Rachman (bergiat di Komunitas Api Bandung dan Asian-African Reading Club, Museum KAA.)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s