Semangat Bandung Belum Mati: Niat Baik

Niat Baik

Niat Baik

Dalam peringatan Konferensi Asia-Afrika ke-60 bulan April yang lalu, kemeriahan suasana kota Bandung seakan membuat setiap pasang mata di dunia melirik ke arah kota ini. Semua orang bergembira dengan adanya peringatan ini. Sudut-sudut kota dibenahi, dipercantik, dan diberi ornamen-ornamen yang semarak dan riang. Panitia lokal dari Museum Konperensi Asia-Afrika, panitia kota, panitia provinsi, bahkan hingga pemerintah pusat, bergerak mengupayakan suksesnya peringatan internasional itu. Tak lupa pula, komunitas-komunitas dari berbagai penjuru kota juga ikut memeriahkan acara tersebut dengan berbagai kegiatan. Setiap orang ingin ikut andil di dalamnya.

Hasil kerja keras dan pemikiran para pemimpin dunia pada tahun 1955-lah yang membuat momen 60 tahun kemudian ini terwujud. Mereka, para pemimpin dunia dari masing-masing negara dari benua Asia-Afrika, yang mewujudkan sebuah momen penting dalam kalender sejarah dunia. Konperensi Asia-Afrika 1955 menjadikan Indonesia, terutama kota Bandung, menjadi pusat perhatian dunia, mungkin bahkan hingga saat ini.

Di balik semua itu, niat baik dari para pemimpin itu yang membuat KAA 1955 terwujud. Ketua KAA 1955, Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo, dengan gigih menjalin niat baik itu dalam Konperensi Kolombo dan Konperensi Bogor. Bahkan, ia juga dengan senang hati memenuhi undangan dari perdana menteri India saat itu, Jawaharlal Nehru, untuk membicarakan kemungkinan mengundang delegasi-delegasi dari dua benua. Niat baik yang dijalin oleh Ali Sastroamidjojo untuk mengadakan KAA 1955 adalah semata untuk berbagi rasa dengan sesama. Semangat kemerdekaan yang diperoleh Indonesia dengan perjuangan tiada henti, harus dibagikan kepada negara-negara yang mengalami penderitaan serupa dengan negeri ini. Niat baik untuk mengadakan KAA 1955, menjadi dukungan moral bagi negara-negara dari kedua benua untuk membebaskan diri dari kolonialisme.

Kini, 60 tahun sejak momen penting itu, kita harus kembali menanyakan kepada diri kita masing-masing: masih adakah niat baik itu? Peringatan KAA ke-60 harus menjadi titik tolak untuk kembali mengintrospeksi keadaan negeri ini yang pernah menjadi lirikan dunia, bahkan menjadi pusat perhatian dunia. Jika pada peringatan KAA ke-60 ini kita gagal melihat ke dalam diri kita, gagal untuk melihat niat baik yang pernah dibangun oleh para pendiri bangsa ini, maka sebenarnya peringatan ini hanyalah euforia semata.

Bukankah “setiap amal bergantung pada niatnya”?

Kalau begitu, Semangat Bandung tidak akan mati selama masih ada orang-orang yang berjuang berlandaskan pada niat baik. Andakah orangnya?

Oleh: Pramukti (bergiat di Komunitas Api Bandung dan Asian-African Reading Club. Mengelola blog pribadi pramredesign.wordpress.com).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s