Api Bandung

Api Bandung diliput oleh Syarif Maulana sebagai salah satu komunitas kebangsaan

Api Bandung diliput oleh Syarif Maulana sebagai salah satu komunitas kebangsaan

Api Bandung didirikan pada pertengahan tahun 2013 dengan mendasarkan pada Semangat Bandung atau Spirit Bandung. Sepuluh poin Semangat Bandung yang tersurat dalam Dasasila Bandung menjadi landasan Api Bandung bergerak menggali dan mendistribusikan semangat nasionalisme yang dibawa dalam Konperensi Asia-Afrika 1955.

Pada awalnya, Api Bandung dikonsep pada pertemuan-pertemuan tadarusan Asian-African Reading Club (AARC). Beberapa anggota AARC yang tergerak oleh Semangat Bandung di dalam pembahasan buku “The Bandung Connection” karya Roeslan Abdulgani, mulai memikirkan konsep komunitas yang dapat menyebarkan semangat tersebut kepada masyarakat. Maka, terbentuklah Api Bandung yang memiliki moto “Katakan bahwa Semangat Bandung Belum Mati!” Hingga kini, AARC menjadi ruang pertemuan, pembelajaran, dan diskusi nasionalisme dan nilai-nilai budaya, sedangkan yang bergerak menyebarkan nilai-nilai tersebut adalah Api Bandung.

Ruang gerak Api Bandung meliputi seluruh aspek masyarakat, terutama ruang komunitas dan pendidikan. Api Bandung menjalin jaringan dengan banyak komunitas di Bandung dan bergerak dari satu ruang pendidikan ke ruang pendidikan lain menyebarkan Semangat Bandung. Salah satu ruang pendidikan yang menjadi ruang gerak Api Bandung adalah museum-museum. Fungsi museum berdasarkan 3 pilar museum: mencerdaskan kehidupan bangsa, menjadi kepribadian bangsa, dan memperkuat ketahanan nasional dan wawasan nusantara.

Semangat yang ditularkan AARC dan Sahabat Museum KAA (SMKAA) menyulut Api Bandung untuk memberi kesempatan kepada komunitas-komunitas berkarya di dalam museum. Saat ini, Api Bandung diberikan kepercayaan oleh Museum Sri Baduga untuk menghidupkan kembali Sabahat Museum Sri Baduga dan meramaikan kembali museum Jawa Barat tersebut. Terlebih khususnya Rumah Sejarah Inggit Garnasih – yang kepengurusannya di bawah Museum Sri Baduga – Api Bandung menginisiasi terbentuknya komunitas Laskar Inggit untuk meramaikan kembali rumah bersejarah tersebut dan mengenalkan kembali Inggit Garnasih pada generasi terkini. Hal ini dilakukan pula demi menyokong Inggit Garnasih menjadi pahlawan nasional.

Seorang tokoh Indonesia lainnya yang Api Bandung sokong menjadi pahlawan nasional adalah Ali Sastroamidjojo. Sebagai seorang diplomat yang menginisiasi terwujudnya konferensi rakyat kulit berwarna pertama di dunia, KAA 1955, Ali Sastroamidjojo belum memperoleh gelar pahlawan nasional. Oleh karena itu, pada hari ulang tahunnya yang ke-112, pada tanggal 21 Mei 2015, Api Bandung mengadakan “Sebait Ingatan untuk Ali Sastroamidjojo” yang diisi dengan penyalaan 112 lilin, pengumpulan tanda tangan dukungan, dan berbagai pertunjukan seni, termasuk pembacaan catatan memorial dari keluarga Ali Sastroamidjojo.

Selain itu pula, Api Bandung juga menginisiasi Napak Tilas Mata Air Bandung, yang pertama ke daerah Ledeng pada bulan Maret yang lalu. Bandung sebagai daerah mata air, kini sudah mulai kehilangan sumber-sumber air tersebut. Tentu ini mengancam nasioanlisme terhadap “tanah-air”. Oleh karena itu, dimulai dari Mata Air Ledeng, Api Bandung akan bergerak menuju mata air-mata air lain di Bandung.

Nasionalisme saat ini sudah tidak berakar, terutama pada generasi muda. Rasa kebangsaan yang memudar dengan hantaman globalisme yang luar biasa. Maka, Api Bandung berupaya menguatkan kembali jati diri bangsa pada generasi muda, dengan kemasan yang lebih modern, tanpa mengurangi esensi nasionalisme itu sendiri. Nasionalisme menjadi penting bagi generasi masa depan yang dicita-citakan oleh pada pendiri bangsa ini.

Api Bandung bercita-cita tetap konsisten dalam menyebarkan Semangat Bandung, yang berlandaskan pada 4 nilai inti Spirit Bandung: Niat Baik, Egaliter, Kerjasama, dan Perdamaian. Melaui nilai-nilai ini, Api Bandung ingin mendirikan koperasi-koperasi di dalam komunitas-komunitas dan organisasi. Api Bandung percaya bahwa koperasi berfungsi dalam ketahanan ekonomi, ketahanan budaya, dan ketahanan sosial.

Keanggotaan Api Bandung kebanyakan berasal dari mereka yang telah terpantik semangatnya dalam diskusi-diskusi AARC. Akan tetapi, Api Bandung tidak menutup kemungkinan untuk menerima anggota lain. Tidak ada mekanisme khusus dalam penerimaan anggota baru. Tidak ada hierarki organisasi di dalam Api Bandung, hanya ada koordinator saja, yaitu Lely Mei.

Dalam pergerakannya, Api Bandung tidak mau sendirian. Api Bandung bergerak sambil berjejaring dengan komunitas-komunitas lain, berharap dengan cara itu Semangat Bandung dan nasionalisme bisa meluas dari satu orang ke orang lain.

Oleh: Pramukti Adhi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s